Home

Profil

Satuan Kerja

Produk Hukum

Layanan Publik

Pusat Informasi

Survey IKM

Pencarian Data

Lp Warungkiara 1

 

Lp Warungkiara 2

 

Lp Warungkiara 4

 

Lp Warungkiara 5

 

Lp Warungkiara 8

 

Lp Warungkiara 9

 

SUKABUMI- Dalam upaya menekan peredaran gelap Narkoba dan penggunaan Handpone (HP) yang semakin merajalela dan tidak terbendung lagi salah satunya peredaran di LAPAS dan RUTAN. Dalam hal ini Kementerian Hukum dan HAM RI melakukan pengawasan dengan langkah – langkah inovatif untuk melaksanakan zero narkotika, psikotropika, dan bahan adiktif berbahaya lainnya (narkoba) di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) dan Rumah Tahanan Negara (Rutan),

Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham) telah melakukan langkah-langkah inovasi, berupa menetapkan pilot project di tiap-tiap Kantor Wilayah (Kanwil) Kemenkumham.

Demi mewujudkan hal tersebut, dalam hal ini birokrasi pemasyarakatan yang inovatif, bersih dan bermartabat. Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas III Warungkiara Sukabumi Jawa Barat telah membuat terobosan baru, yaitu dengan meluncurkan layanan kunjungan berdasarkan Sistem Database Pemasyarakatan (SDP) berupa alat deteksi berbasis IT yakni Portir Control Computer dan Self Service Computer.

Dalam kunjungannya pada hari selasa, (19/03/19) Kepala Kantor Wilayah Kemenkumham Jawa Barat, Liberti Sitinjak bersama para pimpinan tinggi pratama juga sempat mencoba aplikasi inovatif tersebut. Hal ini demi memastikan apakah aplikasi memang benar-benar sudah dijalankan, mulai dari petugas dan layanan besukan sampai self service untuk warga binaan pemasyarakatan (WBP).

Kakanwil, Sitinjak sangat mengapresiasi program ini. Menurutnya, semenjak dipimpin Kalapas Christio, Lapas yang terletak di dekat pantai Pelabuhan Ratu ini, menjadi tumbuh pesat.“ Inovasi yang dimunculkan juga sangat cepat,” puji Sitinjak setelah melihat hasil aplikasi tersebut.

Sitinjak mengungkapkan,’’Meski program ini bukan yang pertama di Indonesia. Tetapi untuk ukuran di wilayah Jabar termasuk yang cukup lengkap. Sebab sangat mempermudah akses pelayanan baik kepada warga binaan, maupun masyarakat yang akan berkunjung. “Ini tuntutan zaman sekarang, semua harus berbasis IT,” ujar pria asal Medan Sumatera Utara ini.

Selain itu,Sitinjak juga menegaskan bahwa setelah peluncuran aplikasi ini, tidak ada lagi permainan data yang berujung pada pungli kepada WBP maupun keluarganya. Karena semua data sudah tersimpan dan bisa dilihat sendiri oleh yang bersangkutan. Waktu kunjungan juga tidak bisa berlebihan, karena yang menghitung adalah komputer.

Sementara itu, Kepala Lapas klas III Warungkiara Sukabumi, Christio dalam wawancaranya dengan Humas Kanwil Kemenkumham Jawa Barat mengatakan,’’Penerapan Fitur Portir dan Self Service di Lapas Warungkiara sebenarnya bukanlah hal yang baru. Mengingat penggunaan aplikasi ini memang sudah ada didalam Fitur SDP. Pertama kali diterapkan pada saat saya mengikuti Diklat PIM TK. III tahun 2015 (Karutan Pelaihari). Waktu itu saya mengambil judul di proyek perubahan yakni,"Sistem Identifikasi Pengaman Pintu Utama."katanya.

Menurutnya,‘’Dengan Sistem Identifikasi Sidik Jari, dapat memberikan kepastian kepada Petugas P2U mengingat data yang didapat lebih akurat. Sehingga berkontribusi positif bagi terciptanya keamanan dan ketertiban.’’ Ujar alumni Akademi Ilmu Pemasyarakatan (AKIP) Angkatan 30 ini.

‘’Keefektifan dari Fitur ini tidak lepas dari kepatuhan Petugas Registrasi dalam menginput data setiap Tahanan atau Narapidana yang baru masuk/dikirim kedalam Lapas dan dapat memberikan layanan yang efektif dan efisien kepada Warga Binaan, Pengunjung/Tamu yang akan keluar/masuk Lapas Warungkiara.’’tutur Christio.

Ia juga menerangkan,‘’Fitur Portir juga diterapkan bagi tahanan yang akan menjalani sidang di Pengadilan. Daftar nama tahanan yang akan mengikuti sidang sebelumnya akan di input oleh Petugas Registrasi dan sebelum tahanan keluar dari Lapas Petugas P2U akan melakukan pengecekan identitas dengan pemindaian sidik jari (Memastikan identitas tahanan sesuai dengan surat panggilan sidang).’’Terang Christio.

‘’Seluruh petugas Lapas Warungkiara juga berkomitmen dalam mendukung program HALINAR. Hal ini dibuktikan dengan dua kali dilaksanakan kegiatan test urine bagi Pegawai dan WBP (Hasilnya NEGATIF). Kegiatan razia gabungan bersama BNN, POLRI, KODIM dan Satpol PP hasilnya tidak ditemukan HP dan Narkoba satu pun. Sebagai sarana komunikasi bagi WBP dan Keluarganya, kami telah menyiapkan WARTELSUS berjumlah 19 unit, dengan bekerjasama PT.Palapa, yang pendapatan perbulannya mencapai rata-rata sebesar 15 juta rupiah.’’ Tandas Christio.

Ia meyakinkan,’’Saya yakin dengan komitmen bersama baik para petugas Lapas maupun Warga Binaan, di Lapas Warungkiara ini tidak ada yang namanya peredaran Narkoba dan penggunaan HP lagi di dalam Lapas. Kalaupun ada hal itu, saya akan tindak tegas atau saya siap di copot dari jabatan saya sebagai Kalapas.’’tegas Chistio. (red/foto: Humas Jabar)